Minggu, 19 September 2010

HARI-HARI TERAKHIR NIKE DENGAN PARA SAHABATNYA


Hari-Hari Akhir Nike Di Tengah Sahabat-Sahabat Tercinta.

nikeardilal_jr_018.jpg

ADEGAN, AIR MATA. Kepergian Nike Ardilla memang sangat mengagetkan. Bukan
saja bagi kalangan pers, penggemar, tapi juga kawan-kawan seprofesinya.
Tidak ada yang menduga, si cantik yang baru saja menyelesaikan album kedelapannya,
Sandiwara Cinta harus menghadap ke hadirat Allah SWT dalam usia yang
masih muda.

Begitu banyak keinginan yang belum tercapai. Melaksanakan umroh ke tanah Suci Mekah,
melanjutkan sekolah ke Australia dan membeli rumah.

Menjelang hari-hari terakhirnya,
Keke memang sedikit lain. Tapi tak seorangpun menyangka atau berfirasat itu
tanda-tanda kepergiannya. Agus Patirane, sutradara Trauma Marissa menceritakan
betapa jahil dan isengnya Nike, saat syuting terakhir hari Jum’at 16 Maret
1995. “Masa’ sewaktu saya sedang nungging melihat monitor, Nike tiba-tiba
mencolek pantat saya. Aduh, jahilnya nggak ketolongan deh dia hari itu.
Nggak biasa-biasanya dia begitu,” kata Agus.

Bukan cuma Agus, kru yang lain pun tak luput dari keisengan hari itu.
“Selain iseng, Nike juga terlihat gagap saat syuting terakhir. Sampai harus take berulang-ulang. Waktu saya tanya apakah dia mabuk?
Keke sehat banget kok! Tapi nggak tahu kenapa jadi gagap. Mulut Keke seperti
terkunci untuk mengucap dialog,” ujar drg. Fadli, yang berperan sebagai ayahnya
dalam Trauma Marissa. Hal yang sama juga dinyatakan oleh Minati Atmanegara,
yang berperan sebagai ibunya. “Memang Nike agak gagap hari itu. Nggak biasanya
sih. Tapi hari itu Nike memang agak lain. Biasanya dia selalu ngeluh soal
kulitnya, matanya, tubuhnya. Tapi hari itu tumben dia memuji diri sendiri
, ‘Ih, Nike cantik ya kayak Marilyn Monroe’. Kita semua jadi tertawa.
Lalu saya komentari ‘kamu memang cantik kok,” kenang Minati.
Saat syuting terakhir Nike bahkan sempat meniru- niru
gayanya Marlyn Monroe. Kebetulan scene hari itu mengambil Keke dalam posisi diatas
teras. Setiap kali ada teriakan Cut!, Keke membungkukan badan dan
melambaikan tangan sambil berucap, ‘mirip Marilyn Monroe ya’. Agus pun mendapat
kenangan terakhir. Setelah syuting selesai, Nike menghampiri dan mencium
pipinya sambil berkata, “Om Agus, selamat tinggal. Sampai ketemu nanti”.
Kata kata yang samar artinya itu dipertanyakan oleh Agus. Tapi Nike sambil
tersenyum Nike mengatakan bahwa ia akan syuting sinetron lain dan video klip.
Tapi ia berjanji melanjutkan syuting tanggal 22 Maret. Dari dalam mobil,
sebelum meninggalkan lokasi syuting, setiap orang diteriaki salam perpisahan.
Bahkan, Nike sempat memberikan sallam perpisahan kepada Trasta, kameramen
yang terhitung jarang bercanda dan tak terlalu akrab dengannya. Demikian
juga dengan Cok Simbara, yang berperan sebagai Om nya dalam sinetron ini.
“Waktu saya terima telpon, saya shock. Saya sempat berpikir ini cuma
bercanda. Tapi kalau dipikir-pikir, April Mop masih jauh. Rasanya
nggak mungkin Keke pergi secepat itu. Kenangan tak terlupakan bagi saya,
selama syuting setiap kali akan melakukan adegan menangis. Untuk memancingnya,
Keke harus melihat mata saya. Kalau saya kelupa’an atau konsentrasi lagi
ditempat lain, dengan gaya merajuk ia akan menarik tangan saya sambil berkata,
‘Om, matanya mana om,’ kenang Cok Simbara.

Buka cuma sahabat-sahabat di
Trauma Marissa saja yang diberi pertanda. Fitri, sobat kentalnya
pun merasakan sesuatu. Sebelum berangkat ke Bogor, Keke memaksa Fitri untuk
menginap di rumahnya. Ketika Fitri mengatakan tidak punya baju untuk ganti,
Keke menyuruh memakai baju miliknya.
“Semua barang yang ada dikamar ini boleh Fitri pakai. Keke nggak marah.
Dan kalau ada yang marah, bilang sama Keke ya,” kenang Fitri, sambil mengusap
air mata.

Keke juga sempat memberi pesan pada teman-temannya yang saat itu berkumpul dirumahnya. “Tolong jagain Fitri. Jangan sampai ada yang menyakiti
hatinya”. Seminggu sebelumnya, Keke minta ditemani tidur bareng Fitri.
Tangan Fitri digenggam erat sepanjang malam. “Waktu saya tanya kenapa, dia
bilang ‘Nggak apa-apa, Keke lagi kangen aja ama Fitri’. Ya udah, berhubung
saya kangen juga ama dia, genggaman itu tidak saya lepaskan,”. Kedekatan
Keke dengan Fitri memang cukup kuat. Terbukti dengan ajakan Keke untuk minta
ditemani Fitri sekolah di Australia, selepas kesibukannya main film dan nyanyi . Tapi rencana itu sekarang tinggal rencana. Nike sudah pergi untuk selama-lamanya.
“Melihat Nike seperti melihat adik saya sendiri. Lihat deh wajah kita,
mirip kan. Ketika melayat, saya merinding juga melihat foto kita berdua terpampang di
rumahnya. Sewaktu lihat saya, ibunya langsung nangis. Di rumah Nike, kalung saya, batunya, tiba-tiba copot. Terus air air tumpah. Saya pikir,
Nike kasih tanda minta disembahyangin. Langsung saja saya sembahyang di kamarnya.
Apalagi semalam (18/3) bulu kuduk saya berdiri terus. Sejak tengah malam
sampai jam tiga pagi. Saya merasa bakal ada sesuatu, tapi nggak tahu apa.
E..e, nggak tahunya pagi-pagi dapat kabar Nike meninggal. Ya Tuhan, Nike
kan masih muda,” kata Paramitha Rusady, hampir tak percaya.

Komentar yang sama juga datang dari Minati. “Nike masih muda dan punya banyak
potensi. Dia sudah seperti adik sendiri buat saya. ”
Setiap ada masalah soal kecantikan dia ngeluh ke saya. Saya sempet nasehatin,
‘kalau mau segar jangan begadang’. Dan kemarin akhirnya dia mencatat alamat
sanggar saya. Katanya mau senam,” tutur Minati. Sebetulnya, Nike Ardilla
sudah lama tahu kalau Minati punya sanggar senam. Tapi baru pada hari itu
dia menyatakan keinginannya untuk ikut senam di sanggarnya. Semua yang dikatakan
atau dilakukannya Nike Ardilla pada hari-hari terakhirnya, bisa dianggap sebagai
pertanda, bisa juga tidak. Tapi yang pasti, kepergian Nike Ardilla seperti
menghidupkan kembali semua kenangan di hati para sahabatnya.

“Nike itu orangnya nggak reseh. Temannya banyak. Hobinya mengumpulkan teman-
teman. Karena itu dimana-mana dia punya sahabat, teman-teman. Saya juga
sering jalan bareng sama dia,” kata Alba Fuad (Abut), salah satu dari sekian
banyak sahabat dekat Nike Ardilla.

“Kalau syuting video klip dengan Nike, bisa cepat selesai. Soalnya dia memang
gampang di direct,” kata Ria Irawan, yang pernah menggarap dua video
klip lagu Nike ; Suara Hati, Biarkan Cintamu Berlalu.
“Dia bisa buang egonya sebagai artis. Dia nurut dan pasrah pada konsep yang
saya buat. Kalau mau syuting dia nggak pernah bilang ‘gue maunya dibikin
begini, begitu’. Tapi dia selalu bilang “gue mau kamu apain”? Pokoknya dia nggak menentukan maunya sendiri. Kooperatif banget deh!
Dia juga nggak mengeluh meski syuting baru dimulai jam satu pagi. Sebagai
artis Nike juga tau banget bahasa tubuh. Gerakannya bisa disetel pas dengan
beat lagu dan gerak kamera. Dan enaknya, di-shoot dari mana
saja dia kelihatan cantik.
Jadi sebagai sutradara saya nggak pernah pusing memilih angle.
Waktu syuting klip Suara Hati ditempat kejadian Aldi meninggal
(rumah Ria Irawan), percaya nggak, Nike dua kali jatuh tanpa sebab. Padahal
dia lagi tenang-tenang berdiri. Kita terus lihat-lihatan, sama-sama heran
dan sadar ada yang aneh. Tapi kita sepakat meneruskan syuting. Dan waktu
melihat hasilnya, Nike kelihatan puas banget,” tutur Ria Irawan.

Inneke Koesherawaty, aktris yang sedang naik daun, juga punya kenangan tak
terlupakan tentang almarhumah. Mereka kenal saat pemilihan Gadis Sampul pada
1990. Meski baru saat itu, keduanya langsung jadi akrab. “Kemana-mana dia
ngintil saya terus. Sampai tidur pun berdua, meski dia punya jatah
kamar sendiri. Dia itu agak penakut, sampai-sampai pergi ke kamar mandi
pun minta ditemani . Makanya saya sedih banget ketika mendengar Nike pergi.
Beberapa waktu sebelumnya, kita sempat jalan bareng, dia kelihatan bahagia
banget waktu itu. Ceritanya macam-macam, pokoknya dia lagi seneng deh. Nggak
disangka itu pertemuan terakhir. Nike,Nike…, kenapa jadi tragis begitu,”
kata Inneke dengan sedih. “Dia kan masih muda, sama dengan saya, 19 tahun.
Dia lahir 27 Desember, saya 13 Desember 1975. Dimata saya Nike anak yang
baik. Saya hanya bisa mendoakan semoga arwahnya diterima di sisi Allah SWT,”
tambah Inneke. Ya, selamat jalan Nike Ardilla, semoga Tuhan memberi tempat
yang layak disisiNya…

Sumber : BINTANG, MARET 1995.

Posted on on July 25th, 2008 in Kenangan Orang-Orang Terdekat | 3 Comments »
Curahan Hati Ibunda Nike Ardilla




ning.jpg

Kepergian Nike Ardilla meluluhlantakkan perasaan ibundanya, Ny.Nining Kusnadi.”Ya, Allah…tak adakah cobaan yang lebih ringan buat saya?” katanya sambil mengusap foto Nike -pesanan Almarhumah- dari majalah KARTINI.Dengan duka yang mendalam Nyonya Nining menuturkan pengalaman hidupnya bersama sang bintang,Nike Ardilla

Seandainya saya bisa mengatur suara suara,tak ingin rasanya saya mendapat berita meninggalnya putri saya,Nike Ardilla.Namun berita duka itu semakin santer dan menjadi kenyataan.

Pada tanggal 19 Maret 1995 pukul 06.00 WIB,telepon berdering di rumah kami.Di seberang sana,seseorang yang mengaku polisi mengucap,”Assalamualaikum…..putri anda,Nike Ardila mengalami musibah dan kini berada di rumah sakit…..”
Karena terbiasa mendapat berita semacam itu,saya berusaha tetep tenang.”Anda siapa? Bisakah saya mendapat nomor telepon anda?” Suara di “seberang sana” menyebutkan sederet nomor,tetapi pikiran saya tak bisa lagi terkonsentrasi.Entah mengapa,sekujur tubuh ini menjadi begitu lemas. Tiba tiba saja,perasaan saya seperti melayang.Rasanya kedua kaki ini tak lagi berpijak di bumi…..Begitu tersadar,saya telah berada di rumah sakit.
Di hadapan saya,Neng (panggilan sayang Nike Ardilla di rumahnya) terbaring.Kepalanya penuh luka dan dadanya memar. “Neng,kenapa kamu,Nak? Cepatlah bangun.Ayo kita pulang!” kata saya.Tetapi Neng diam saja.Tubuhnya kaku dan ia tak menjawab. Ya Tuhan,kuatkan hati saya! Saya ingin menolong anak saya!” Tetapi tangan saya seperti lunglai,

Pukul 09.00 WIB,jenasah Neng tiba di rumah kami.Air mata ini tak terbendung lagi,”Kenapa Neng tega meninggalkan Mami?Neng,coba lihat Mami! Mami sayang kamu Nak!” Tapi anak itu diam saja.Saya seperti sukar percaya kalau Neng “BUNGA” keluarga kami benar benar telah berpulang……

Sampai detik ini,rasanya saya tidak percaya Neng sudah tiada.Kayaknya dia sedang pergi show atau syuting.Tapi kalau sadar dia sudah tiada,batin ini rasanya ingin menjerit.Saya benar benar kehilangan dia.Sempat beberapa kali saya protes pada Tuhan,kenapa secepat itu Dia memanggil anak perempuanku satu satunya.Tapi akhirnya saya ini sudah kehendak-Nya.

Kini saya hanya bisa menatap foto Neng yang seolah tersenyum manis untuk ibunya.Sering saya duduk lama di kamarnya sambil menangis.Kalau sudah begitu,anak anak dan saudara saya mencoba menghibur.Ya…saya tak boleh terus terusan larut dalam kesedihan.Pelan pelan saya mulai yakin dan makin yakin….Neng sudah bahagia di sisi-Nya.

Dimata kami dan kakak kakaknya,Neng gadis yang manja dan ceria.Kami hampir tak pernah melihatnya bersedih.Kalau kutanya,”Neng ada masalah apa? Kok lesu amat?”Pasti jawabnya,”Nggak ada apa apa.Mami tenang tenang aja.Everything is okay!”

Meski manja,Neng selalu berusaha menyenangkan hati kami.Kelahirannya pun sebetulnya adalah kebahagiaan tersendiri bagi kami.Saya dan suami,memang sudah lama berdoa memohon agar kami dikaruniai anak perempuan yang saleh,dan menyenangkan hati orang tua.Maklum,dua anak kami sebelumnya laki laki.Saat itu kami masih tinggal di daerah Kebon Sirih,Bandung. Disana banyak pramugari yang kost.Mereka cantik cantik.Saya sering bilang sama suami,”Pi,aku ingin anak kita geulis kayak anak anak itu.”

Saking kepengennya punya anak perempuan,segala usaha kami lakukan.Termasuk memakai “pancingan” seperti nasihat orang.Kebetulan bibi saya melahirkan bayi perempuan.Anak itu kemudian saya asuh sampai umur 6 bulan.Tak lama kemudian,saya mengandung Neng.Selama kehamilan sampai persalinan semua berjalan lancar.

Tanggal 27 Desember 1975,lahirlah Neng di RS Ibu Emma,Bandung.Kebahagian saya sungguh tak terlukiskan.Suami saya tak sempat hadir saat itu karena sedang bertugas di Jakarta.Tapi ia melonjak gembira saat kami mengabarkan anaknya perempuan.
Sepertinya begitu lahir,Neng sudah membawa keberuntungan.Contohnya,jatah dari kantor suami hanya cukup untuk perawatan di kelas II,tapi begitu Neng lahir,kami mendapat rezeki,hingga saya bisa pindah ke kelas I.

Neng tumbuh dan berkembang seperti anak anak lainnya.Bedanya sejak kecil Neng suka difoto.Tiap habis mandi,dia selalu minta difoto.Kalau tidak dipenuhimdia bisa menangis sampai menjerit jerit.Terkadang biar tenang,suami saya cukup berpura pura memotretnya.Kami sampai meledek,”Ih,si Neng kecil kecil udah genit,” biasanya dengan mimik lucu dan suara cadel,Neng menjawab,”Biarin..kalau sudah besar kan Neng mau jadi pagarwati.” Maksudnya peragawati.

Waktu masuk TK,Neng selalu jadi pusat perhatian bila ikut karnaval.Habis tampangnya lucu dan menggemaskan.Kalau ditanya,”Neng bisa nyanyi nggak?” Langsung dia mengiyakan.Dia paling senang mendendangkan lagunya Iis Sugianto…”Masihkah kau ingat …sayang…” Ah,rasanya semua itu seperti terjadi baru kemarin.

Bakat nyanyi yang dimililiki Neng sangat menonjol.Atas saran beberapa orang,Neng saya masukan ke Himpunan Artis Bandung di daerah Tegallega.Tiap ada hajatan,atau perayaan di kantor ayahnya,ia pasti tampil. Sejak itulah dia menyanyi sampai sekarang (Ingat!!! sampai sekarang Nike Ardilla tetap bernyayi.). Heran juga kalau melihat keluarga kami tak ada yang berdarah seni.

Meski sudah jadi artis yang sukses,di rumah ia tetap seperti anak anak lain.Tiap pulang ke Bandung,pasti Neng telepon ke kiri kanan,ngumpulin teman temannya.Begitu kumpul,lagu metal distel,dan tukang bakso dipanggil.Lalu mereka ngerumpi sambil makan bakso dan dengerin lagu.
Tiap ke rumah,Neng selalu minta saya masakin,” Mami bikin sambal dong,” hobby Neng memang makan sambal dengan ikan peda,tahu,serta lalap jengkol.Kata Neng,dia udah bosan makan di restoran.Makanya tiap pulang,pasti ia minta dimasakin itu.

Kemanjaan Neng juga tidak berkurang.Sering selagi saya dan suami tidur,datang Neng ke kamar,” Minggir- minggir ,Neng mau tidur di tengah.” pintanya.Kadang kami goda dia,” Ih,gimana kalau nanti Neng sudah punya suami ,terus diganggu sama anaknya kayak begini?” Paling palin ia menjawab,”Biarin aja,itu kan nanti.Yang penting,sekarang Neng mau tidur di sini.”

Neng juga termasuk anak yang berjiwa sosial.Kalau memberi sesuatu ia tak pernah ngomong ngomong.Sering saya ingatkan,agar jangan terlalu royal tanpa perhitungan.Tapi dia bisa saja berdalih,” Yang namanya rezeki itu,datangnya ada aja,Mi.” Kalau saya ingatkan untuk menabung demi masa depannya,dia bilang,urusan rumah tangganya adalah tanggung jawab suaminya kelak.” Pokonya mamih ga usah kuatir,Neng tau batasnya kok,” bujuknya.
Pada orang tua dan saudaranya pun Neng sangat royal.” Kalau papi atau Mami gak punya duit,bilang saja yah.”Katanya selalu.Sering Neng memberi uang,entah sejuta atau dua juta rupiah.Pendeknya tiap dapat rezeki,ia tak lupa pada kami.Malah beberapa kali dia meminta ayahnya untuk berhenti bekerja,” Papi kan sudah tuamntar Neng aja yang menaggung semuanya.”

Kepada kami,Neng selalu terbuka.Waktu santer diberitakan mabuk mabukan,kami sempat menanyakannya pada dia.Menurutnya tuduhan itu tidak benar.”Neng memang minum,Mi.Tapi cuman sedikit.Itu pun cuma untuk pergaulan.Pokoknya nggak usah khawatir.Neng nggak akan emnyengsarakan papi dan mami kok,”sahutnya.

Sejak Neng masih kecil,kami selalu menanamkan ajaran agama yang kuat.Neng juga sering membaca buku buku tentang agama.Misalkan,buku yang menggambarkan suasana di neraka.Juga cerita cerita tentang orang tua yang susah masuk syurga karena anaknya nakal.Jadi,Neng takut kami sengsara bila kelak sudah tiada.Makanya dia rajin berbuat baik dan bersedekah.

Sabtu 18 Maret 1995 siang,Neng menelpon saya,” Mami,Neng ntar pulang agak maleman karenya syutingnya belum kelar.” katanya.Sempat saya tanya dengan siapa dia pulang.Katanya diantar sopir,sempat pula saya berpesan,”Hati hati di jalan.”

Sekitar pukul 22.00,Neng datang bersama Atun.Waktu dia masuk,saya sedang santai di ruang tengah.”Badan Neng kok kurusan?” tanyaku.” Mami,kalau di film itu ada peran gemuk dan peran kurus,ini kebetulan Neng harus tampil kurus,” jawabnya.
Dia juga balas bertanya,” Mi,Neng cantik apa nggak sih?” Kujawab,” Kamu mah geulis.” Eh dia masih belum puas.” Cantik mana sama Marllyn Monroe?” Saya jawab lagi,” Lebih cantik Neng atuh,kalau Marllyn mah orang bule.Neng asli sunda.” Lantas dia tertawa.

Setelah itu dia masuk kamar mencari kaset Terlanjur Sayang - nya Memes.Dilihatnya foto dirinya yang sedang merentangkan tangan. “Lucu yah Mi,Neng berfoto pakai gaya Superman.Cuma Neng yang bergaya seperti ini,”ujarnya sambil tertawa.Tak lama kemudian,dia memanggil Atun dan menanyakan bajunya.Herannya,Atun cuma diam aja di pojok kamar.
Saya lihat Neng memilih milih baju.Diambilnya kaos merah,celana hitam,dan sepatu merah.Usai berdandan dia kembali bertanya, “Mami,pantas nggak Neng pakai baju ini?” Saya bilang,Neng pakai baju apa saja juga tetep pantes.Setelah itu, Neng pamit karena ada jannji dengan temannya nonton acara pemilihan model sampul majalah.Katanya ada group Java Jive.

Nah…..saat mau pergi,entah mengapa mobilnya susah hidup.Neng sempat ngomel,” Uh,apa sih yang rusak?” Akhirnya mesin mobil itu menyala juga.Tapi Neng seperti nggan berangkat.Malah dia memanggilku.”Tunggu apalagi Neng.Pergi saja.Tapi hati hati dijalan,jangan ngantuk.” pesan saya.Oh iya,sebelum benar benar berangkat,Neng sempat meminta maaf.” Mami,maafin Neng yah.Selama ini Neng banyak bohong sama Mami.Bilang mau syuting,padahal maen.Bilang mau pemotretan padahal jalan jalan,”Katanya. ” Gimana mau masuk Syurga atuh,kalau Neng banyak dosa sama mamih mah.”Goda saya.Sempat pula dia bilang,bahwa dia gak bakalan keluar malam lagi setelah saya tegur.Dia bilang,ini adalah “acara keluar malam” nya yang terakhir.

Esoknya…..Minggu 19 Maret 1995,saya menunggu Neng.Soalnya dia janji hari itu mau mengajak saya jalan jalan ke kebun raya Bogor,sekalian mau main ke rumah Nia Zulkarnaen untuk mengucapkan bela sungkawa.Tapi sampai jam 06.00,dia belum juga datang.Tak lama kemudian telepon berbunyi,dan datanglah kabar duka itu………

Neng kini sudah saya ikhlaskan walau pun terlalu cepat dia pergi.Saya sadar,ini sudah kehendak-Nya.Saya ucapkan terima kasih pada mereka yang sudah membantu kami selama ini,maupun yang menyampaikan bela sungkawanya,kami sekeluarga mengucapkan banyak terima kasih dari lubuk hati yang paling dalam.
Terima kasih juga kepada beberapa gadis yang datang ke rumah kami dan meminta kami mengangkat mereka sebagai anak,menggantikan Neng.Hanya saja,saya belum berfikir sejauh itu,nanti sajalah.Sebab bagiku,tak seorang pun mampu menggantikan kedudukan Neng dihati kami.

Posted on on July 23rd, 2008 in Kenangan Orang-Orang Terdekat | 5 Comments »
Kemuliaan Hati Nike Ardilla

Pagi itu,Minggu 19 Maret 1995,Bandung berduka.Salah seorang putri terbaiknya,Nike Ratnadilla meninggal dunia dalam usia yang masih sangat muda,19 tahun.Mojang priangan yang sampai akhir hidupnya berprofesi sebagai penyanyi,bintang iklan,pemain sinetron,dan model itu,meninggal dunia dalam kecelakaan di jalan Riau (dulu RE.Martadinata ),Bandung.
Mobil Honda Civic Genio biru metalik dengan nomor polisi D 27 AK yang dikendarainya sendiri,menabrak pagar gerbang kantor Nata Usaha Abadi.Peristiwa tragis ini mengakhiri hidup penyanyi yang album albumnya selalu meledak di pasaran itu.Diantara jerit tangis dan rasa kehilangan kedua orangtuanya,kakak kakaknya,kerabat dan para sahabat.
Banyak yang tak percaya ketika mendengar kabar duka ini.Kenapa Nike pergi secepat itu? Kenapa harus dengan cara seperti itu Nike pergi?
Innalilahi Wainailaihi Rojiun,sesungguhnya kita dari Allah dan kembali padaNya.Tuhan sudah memangil Nike Ardilla untuk kembali padaNya.Hanya doa yang bisa kita persembahkan,agar Nike mendapat tempat yang layak di sisiNya,dan keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan.

cantik.jpg

“…Neng sudah pergi…..” Hanya itu kalimat yang bisa keluar dari mulut ibunya,pada setiap tamu yang datang mengucapkan ucapan belasungkawa.
Kalimat memilukan yang mengalir dari bibir sang ibu ini,rasanya tak cukup untuk menjelaskan kesedihan yang dia rasakan.Air mata kemudian yang banyak berbicara.Mengungkapkan rasa kehilangan akan kepergian mendadak si putri bungsu.Bukan hanya ayah dan ibunya,kakak kakaknya,keluarganya yang merasakan kehilangan dan kesedihan mendalam.Hampir semua yang datang ke rumah duka tak bisa menahan tangis.Semua terjadi begitu cepat.Gadis manis yang semasa kecilnya bercita cita ingin menjadi pramugari,agar bisa terbang mengelilingi dunia,kini sudah terbang….jauh….sangat jauh….

” Saat mendengar suara benturan,saya lari mendekati tempat kejadian.Saat itu saya melihat orang orang membopong seorang wanita dari dalam mobil yang penyok sebelah kanan.Lalu saya mendekati mobil,dan di dalam ada wanita lain yang sudah tidak bergerak.Tangannya terangkat ke atas.Darah mengalir dari telinga dan bibirnya.Dan ketika diangkat,jok kursi yang didudukinya tergenang darah.Semula saya tidak tahu siapa dia.Baru ketika polisi datang dan memeriksa tanda pengenal korban,saya tahu kalau itu Nike Ardilla,” cerita Yadi karyawan SPBU yang berjarak sekitar 50 meter dari tempat kejadian.
Keterangan ini diperkuat oleh beberapa saksi mata lain,diantaranya Asep,pengemudi taksi yang sedang mencari muatan dan Anom penjaga kios rokok yang berjarak 25 Meter dari tempat peristiwa tragis itu terjadi.
Menurut mereka,mobil Keke,menuju ke Jalan Ahmad Yani,satu jalur dengan kantor Nata Usaha Abadi itu.Sesaat mobil kelihatan oleng sebelum akhirnya slip ke kiri dan bagian kanan mobil kemudian membentur keras tembok pintu masuk kantor tsb.

Keke yang saat itu mengenakan kaus merah muda dan jeans,langsung dilarikan ke rumah sakit Hasan Sadikin dengan mobil Pick Up.Tapi….nyawanya sudah tidak tertolong lagi.Sedang kawannya,Sofiatun yang saat kejadian berada di dalam mobil yang sama ,meski tak sadarkan diri selama beberapa jam dan sempat dirawat di RS. St.Yoseph,Bandung.


Tiga hari terakhir sebelum Keke mengalami kecelakaan,memang hari yang melelahkan bagi Keke.Dia tengah menjalani syuting dua sinetron sekaligus, Trauma Marissa dan Warisan II .
Hari Kamis dan Jumat,ia mengikuti syuting Trauma Marissa di Lenteng Agung dan Pasar Minggu,Jakarta.Jumat pukul satu dini hari,setelah syuting selesai,Keke langsung menuju kontrakannya di Jl.RS.Fatmawati,Jakarta Selatan.
Pagi itu ia masih menerima kawan kawannya,Deddy Dhukun dan Melly Goeslow.Mereka ngobrol hingga pukul lima pagi.Setelah itu,Keke pergi ke Bogor,untuk syuting Warisan II .Seusai syuting,kira kira pukul 23.00,Keke langsung balik ke Bandung.Tidak lama di rumah,ia pamit untuk pergi menyaksikan show temannya di diskotik Studio East,Bandung.Pukul 03.00 dinihari,Keke sudah terlihat di POLO Dischotique & Pub ,di lantai 15 BRI Tower,Jl.Asia Afrika,BAndung.
” Malam itu jam satu dan jam tiga dinihari,teteh Keke masih sempat menelepon kami.Kebetulan yang nerima Teh Mona,saya tidak tahu apa yang mereka bicarakan,” kenang Fitri,sahabat kental Keke.
Sebelum melanjutkan jadwal syuting di Bogor keesokan harinya,Keke sempat menjemput Atun,ke rumah untuk ambil pakaian.Dalam perjalanan pulang itulah,peristiwa nahas itu terjadi dan merenggut si Bintang Kehidupan.
Jenasah Keke dimandikan di rumah orangtuanya,Jl.Parakan Saat 1/37,Bandung.Dan kemudian pukul 13.30 WIB,dibawa ke Imbanagara Ciamis untuk dimakamkan di pemakaman keluarga.

Semasa hidup,Nike punya obsesi yang terpuji : Memiliki Sekolah Luar Biasa untuk menampung anak anak cacat mental yang tak mampu.
” Ceritanya suatu hari Nike jalan jalan sama papi,terus melihat anak anak cacat mental yang hidup mengelandang.Secara spontan Nike bilang sama papi,bagaimana kalau kita menditikan SLB,untuk menampung mereka yang hidupnya kurang beruntung itu,” kata Nike Ardilla,dalam wawancara bersama Bintang Indonesia beberapa waktu lalu.
Setelah dana yang dimiliki dirasa cukup ,Nike pun mewujudkan impian terpujinya itu. ” Kebetulan paman Nike ada yang bergerak dalam pendidikan Luar Biasa,jadi semuanya bisa lancar.Saya bahagia sekali waktu itu.Bagaimana pun juga,anak anak itu berhak mendapatkan pendidikan.Bahagia sekali rasanya saya bisa berbuat sesuatu bagi mereka,” kata Nike,tentang SLB nya yang ketika itu menampung lebih dari 40 anak cacat mental.
” Makanya,beli donk kaset Nike,selain untuk mengetahui perkembangan music di tanah air,siapa tahu bisa membantu SLB Nike,” tambahnya.Agaknya penggemar Nike memenuhi harapannya.Itu terbukti dari larisnya setiap kaset yang berisi lagu lagunya.Terlepas dari itu,Nike memang mempunyai penggemar yang banyak.
Banyaknya penggemar yang mengidolakannya,inilah salah satu kekuatan Nike sebagai artis.Namanya seolah sudah menjadi jaminan sukses setiap produk,entah sinetron,kaset,atau pun iklan.

Dalam usianya yang masih begitu belia, Nike Ardilla sudah dberi kesempatan untuk melakukan banyak hal.
Tapi dalam usia yang belia itu pula Tuhan memanggilnya.
Kita serahkan semuanya pada Tuhan,karena betapapun keputusanNya adalah yang terbaik.
Jasad Nike memang telah pergi.
Tapi kenang kenangan tentang dia masih hidup dibenak keluarganya,sahabatnya,dan penggemarnya.

[FITRIANI : Belajar Untuk Tidak Tergantung Orang Lain]



Barangkali Fitri lah orang yang paling disayang dan dijaga Nike.
Sejak kecil,keduanya memang sudah erat.
Pokoknya,Fitri menertawakan apa yang ditertawakan Nike,dan menangisi apa yang ditangisi Nike.
Tak ada rahasia,tak ada bohong.
Boleh jadi kedekatan itu disebabkan perasaan senasib.




” Saya dan Nike sama sama kurang puas dengan keadaan rumah.Tidak sampai Broken Home,tapi cukup banyak untuk membuat kami menyimpan kegelisahan,” kata Fitri mencoba menguraikan perasaanya.
Sebagai anak muda,keinginan untuk didengar yang tidak tersalurkan dengan baik,sangat menyakitkan.” Saya tahu,saya disayang,tapi kadang saya merasa caranya salah,” adu Fitri tanpa menyalahkan siapa siapa.Meski sangat erat,Fitri toh menyadari posisinya yang hanya sebagai sahabat.Selalu ada batas yang tak dapat membuat mereka benar benar sepaham.
” Saya dan teteh memang saling mendengar dan mendukung,tapi kami menghormati keputusan masing masing,” jelas Fitri. Soal pacar pacar Nike,umpamanya ,Fitri tahu seluk beluknya. ” Sedih ceritanya,tapi saya tidak dapat terus terusan menasihati.Kalau sudah menyangkut cinta,susah deh,” kenangnya.

Sering Fitri merasa kasihan kalau melihat Nike mau melakukan apa saja yang dikehendaki pacarnya,meski terkadang merusak jadwal yang sudah disusun jauh jauh hari.” Begitulah teteh.Dia itu sangat baik,bahkan terlalu baik pada orang lain.Dia tidak berani menolak.Sifat itu jadi kelebihan sekaligus kekurangan dia,” tutur Fitri seperti menyesalkan.

Bertahun tahun bersahabat, Fitri sempat limbung begitu orang yang dijaga dan menjaganya dengan setia sudah tidak ada lagi.Orangtua Fitri tahu gejolak hati Fitri,” Mereka mengingatkan saya untuk tidak larut dalam kesedihan.Saya juga inginnya begitu,tapi mana bisa sih?” Fitri bertanya,kalau sudah begitu,Fitri jadi menyesalkan kepergian Nike.
” Aduh…coba teteh masih ada….”Demikian biasanya Fitri mengeluh.Dalam kesedihan itu,Fitri menghentikan kursus yang diikutinya. ” Teteh yang waktu itu emmbiayai.Saya tidak dapat berkonsentrasi belajar,” jelas Fitri.

Untunglah Fitri tidak kehilangan kendali.Sekarang ia kuliah di AMIK Bandung (dah lulus kali kalo skrg),meski merasa kurang sreg dan masih memikirkan kemungkinan lain.” Pokoknya ingin cepet-cepet ngantor,” cetus Fitri polos.

Lalu kemana sekarang Fitri mengalihkan segala cerita? Ada beberapa teman yang dianggap Fitri dapat sama dipercayanya seperti Nike…Tapi toh kegelisahan tak akan hilang hanya dengan cerita bukan? Itulah sebabnya Fitri juga belajar mengkoreksi diri dan mengambil hikmah dari peristiwa tragis yang menimpa sahabatnya.” Yah,saya harus belajar tidak tergantung dari orang lain dan menyadari keberuntungan -keberuntungan yang saya punyai,” demikian kata Fitri.
Semoga bisa begitu seterusnya Fit…

4 komentar:

  1. Ya Allah, Saemoga kelak aku bisa bersama2 di surga bersama Nike Ardilla

    BalasHapus
  2. Teh Keke semoga bahagia di sisi-Nya

    BalasHapus
  3. Yaa allah semoga hamba bisa masuk surga dan mendapatkan istri nike ardilla di surga Amin3x.,

    BalasHapus